

Anand Krishna’s Writings
“Aku hendak membagikan apa yang kudengar - itupun jika kau mengizinkan!”
Kemiskinan di Indonesia: Kutukan Allah atau Karena Ulah Manusia?
Posted by admin in Masalah Regional
Sungguh sangat mudah bagi seorang pejabat untuk mengatakan, “ikhlas, sabar…” rakyat memang mesti ikhlas, harus sabar. Bagaimana dengan para pejabat?

read comments (0)Kebahagiaan
Posted by admin in Nyanyian Ilahi
Kemerdekaan Indonesia: Urusan yang belum selesai
Posted by admin in Jakarta Post
Baru-baru ini saya diundang untuk berbicara tentang “Kemerdekaan Indonesia dan Relevansinya Kini.” Tema tersebut tak masuk akal bagi saya. Kalimatnya terkesan kurang tepat. Relevansi kemerdekaan Indonesia ya berarti kebebasan yang anda dan saya nikmati saat ini.

Apa arti sebuah nama?
Posted by admin in Jakarta Post
Ada orang berpikir dan merasa biasa saja dengan nama pemberian orang tua mereka, tapi ada pula orang lain yang melihat nama mereka dengan penghargaan tinggi. Untuk “apa arti sebuah nama”, yang lain akan menanggapi, “inilah namaku yang begitu berarti”
Read the rest of this entry »

Visi Bung Karno
Posted by admin in Media Lokal
BUNG KARNO bukanlah seorang Pemikir saja, tetapi ia adalah seorang Visioner. Dan, visi itu menjadi beban yang mesti dipikulnya.

Dan, Sang Pemimpin pun Menangis
Posted by admin in Media Lokal
BELIAU menitikkan air mata. Siapa yang tak akan menitikkan air mata setelah melihat penderitaan saudara-saudara kita di Kuala Lumpur “Baru”, di sekitar Sidoarjo?

Glokalisasi Perkuat Integrasi Nasional
Posted by admin in Media Lokal
Yogyakarta-RoL– Kekuatan glokalisasi atau melokalkan globalisasi yang berarti tidak sekedar menerjemahkan setiap hal yang masuk namun menciptakan sendiri sesuai dengan budaya setempat, mampu memperkuat integrasi nasional.
“Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Salah satu tokoh yang telah membuktikannya adalah Mpu Tantular yang mampu mengembangkan satu paragraf dalam Kitab Sotasoma di India menjadi cerita luar biasa dengan versi berbeda,” kata tokoh spiritual lintas agama, Anand Krishna dalam Temu Hati bersama Anand Krishna dengan tema “Budaya Sebagai Landasan Integrasi Nasional” di Yogyakarta, Ahad.
Menurut dia, orang yang dapat bertahan hidup adalah orang yang tidak terbawa globalisasi tetapi melakukan glokalisasi.Ia menjelaskan kekuatan budaya juga telah membawa Indonesia menuju kemandirian setelah Sukarno-Hatta memproklamirkan kalimat yang mempertegas keinginan Indonesia untuk merdeka.
“Mereka berdua berani mengatasnamakan rakyat Indonesia dalam naskah proklamasi karena mereka memang bisa melihatnya dari sisi kebudayaan yang dimiliki Indonesia,” katanya.
Ki Hajar Dewantara pernah mengemukakan pernyataan bahwa Pancasila merupakan saripati budaya. Bung Karno yang menggagas Pancasila mengaku tidak menciptakan tetapi hanya menggali nilai kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
“Budaya kita memberi keleluasaan untuk kembali ke dalam tata krama kehidupan, sehingga nilai kebudayaan dan budi pekerti diharapkan dapat ditanamkan di sekolah untuk mengembalikan sistem pendidikan nasional,” katanya.
Budaya untuk menghargai keberagaman juga menjadi salah satu faktor penting integrasi. Sejak zaman Majapahit dalam kitab Sutasoma telah dikenal istilah ‘Bhinneka Tunggal Ika-Tan Hana Dharma Mangrwa’ yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu dan tiada kebenaran yang mendua.
Keanekaragaman yang ada dalam masyarakat Indonesia baik itu agama, suku, etnis, status sosial, sesungguhnya bukan merupakan masalah karena Bangsa Indonesia memiliki akar budaya yang sama. antara/mim
Republika Online, Minggu, 24 September 2006 20:56:00

Kebangkitan Indonesia masih dibuat
Posted by admin in Jakarta Post
“Indonesia masih dalam proses menjadi,” kata seorang rektor univesitas nasional terkemuka di Jakarta bulan lalu. Ratusan mahasiswa dari pelbagai kampus di Jakarta dan sekitarnya duduk tepukau menyaksikan orasi dan bahasa tubuh beliau yang begitu baik, mendengarkan apa yang disampaikan tanpa memahami apa yang dimaksudkan.

Antara “Ayat-Ayat Cinta”, Ahmadiyah dan Pancasila
Posted by admin in Jakarta Post
Sukses fenomenal baik film maupun buku Ayat-Ayat Cinta (AAC) merupakan cerminan kondisi dan kecenderungan masyarakat kita. Yang menarik ialah AAC telah mampu mencairkan “perbedaan” pengkondisian dan kecenderungan tersebut pada keluasan sesuatu yang tak dikenali. Film dan buku ini sama-sama diapresiasi oleh presiden, tokoh agama kita, dan juga masyarakat awam.

Pluralisme bukanlah sebuah solusi; pikirkan altruisme, voluntirisme
Posted by admin in Jakarta Post
“Pluralisme merupakan fakta mendasar di sini, oleh sebab itu kita harus menerimanya,” kata seorang politisi yang partainya menjadikan dogma dan doktrin agama sebagai prinsip tuntunannya.

